Prediksi para ahli dan pengamat politik dalam memetakan konstalasi perpolitikan Partai Golkar dibawah kepemimpinan DPP Partai Golkar yang baru sesungguhnya bisa bermacam-macam. Bisa positif-optimisme atau negatif-pesimisme. Namun kedua perspektif yang ditujukan ini harus dijadikan masukan berarti bagi membangun kinerja politik bagi para elit Partai Golkar dan kader-kadernya kedepan. Hasil Munas yang lalu harus dijadikan “point of political departure”, karena sekali keputusan tertinggi dibuat, apapun Partainya harus diamankan. Implikasi kebijakan yang sudah “politically take-off” ini harus diamankan karena ia sudah menjadi komitmen untuk tidak mungkin kembali (point of no return). Politik bukanlah sekedar analisis akademik dalam olah logika berpikir, tetapi dunia politik adalah dunia yang penuh maknawi secara empirik bahkan penuh intrik. Harus ada kesadaran umum dalam elit Parpol dan basis massa atas setiap respons yang diberikan oleh publik merefleksi manuver politik di pra-dan-paska Pemilu, Pilpres, Pilkada dan bahkan dalam Parpol melakukan regenerasi dan re-interpretasi kebijakan makro-stratejik Partai baik dalam Munas dan Kongres maupun dalam Rapat Kerja. Elit politik yang responsif dan membuka suasana dialogis akan setiap hasil Munas dan kebijakan Parpol, maka besar kemungkinan di Pemilu 2014, rakyat akan memberikan dukungan yang positif pula.
Terlepas dibalik optimisme para elit Partai Golkar DPP dari hasil Munas di Pekanbaru yang merepresentasikan DPD di 34 Provinsi 441 Kabupaten dan Kota, para pengamat politik justru memprediksi di 2014 Golkar bisa “tamat” jika tidak mahu dikatakan “kiamat politik”. Namun pesimisme dan sinisme negatif ini bisa dijadikan faktor pendorong dan dapat menjadi kekuatan memotivasi secara internal bagi elit puncak Partai Golkar untuk melakukan berbagai langkah stratejik kedepan. Tidak ada jaminan Parpol yang besar bisa selalu bertahan di masa depan, sebagaimana juga kemungkinan Parpol yang selama ini dianggap kekuatan politik “gurem” bisa saja mendapat dukungan yang signifikan. Kenapa demikian? Karena politik tidak hanya menyangkut keberadaan, kemapanan dan kekuatan,tetapi ia juga berhubungan dengan kekecewaan dan harapan. Parpol dan elit Parpol di kelembagaan legislatif yang telah diberi amanah oleh rakyat (2009-2014), apabila gagal menjalankannya (khianah), maka hasil akhir Pemilu 2014 sudah bisa diprediksi.
Suatu hal yang perlu dicatat bahwa dominasi para senior politik secara kuantitatif dalam DPP Partai Golkar misalnya, bukan berarti menempatkan supremasi politik dan kemapanan elit yang diutamakan, tetapi “nostalgia politik” ini bisa mempererat daya kohesi Parpol yang dalam tingkatan implementasi politik para kader, tokoh dan politisi muda akan berada di depan. Regenerasi memang dibutuhkan dalam elit Parpol, tetapi trans-generasi tidak bisa meninggalkan sisi peran para pendahulu termasuk mereka yang berpikiran oposan terhadap eksisten elit yang ada di DPP Partai Golkar hasil Munas di Pekanbaru. Untuk itu perlu konsolidasi internal untuk merangkul kembali mereka yang berbeda pandangan dalam Munas. Ethika politik berta-aruf harus diketengahkan jika Partai Golkar tidak menginginkan akan kehilangan potensi yang ada dari sesama rivalitas di elit tetapi tidak di eksistensi Parpol.